Hampir lima tahun saya mengajar mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di SMA. Begitu banyak peristiwa dan pengalaman yang saya alami, baik itu mnyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Di tulisan ini, saya tidak akan terlalu banyak membicarakan tentang pergulatan pribadi saya dalam mengajar, tetapi lebih banyak berbicara tentang materi TIK untuk siswa-siswa SMA yang sangat tanggung. Mengapa tanggung ?
Setelah hampir satu bulan tidak menulis di blog ini, rasanya banyak yang ingin diceritakan dan segera dipostingkan. Menulis di blog ternyata butuh “mud” dan permenungan juga. Kalau hati dan pikiran tidak menyatu, kadang hanya akan jadi tulisan yang amburadul dan tidak fokus.
Materi TIK untuk SMA sebenarnya sudah disahkan oleh pemerintah dan hukumnya wajib dijalankan bagi para guru yang mengajar di SMA. Nama kurikulumnya lebih terkenal denga nama KTSP 2006. Jadi, baik guru SMA yang ada di pedesaan sampai kota-kota besar sebenarnya wajib menggunakan kurikulum ini, meskipun pada prinsipnya masih ada kesempatan untuk mengembangkannya.

Seperti yang saya lakukan di SMA saya, pada tahun pertama saya mengajar, saya selalu pegang kurikulum yang disediakan oleh pemerintah dan tidak keluar dari rambu-rambu yang dituliskan. Namun setelah satu tahun berlalu, hampir sebagian besar materi kami ubah, karena kami merasa banyak materi-materi yang seharusnya tidak perlu diajaarkan.
Tapi, menurut saya itulah salah satu keunggulan KTSP, dimana guru dapat mengembangkan kurikulum dan menyesuaikan dengan kondisi lingkungan sekolah. Saya yakin di sekolah-sekolah lain juga banyak yang mengembangkan atau bahkan mengganti semua materi yang terdapat di KTSP. Dan menurut saya itu tidak perlu diperdebatkan. Sah-sah saja dan boleh-boleh saja, karena setiap sekolah juga memiliki otoritas sendiri-sendiri.
Kalau boleh saya berpendapat, kompetensi TIK di SMA sebenarnya adalah mengenalkan siswa pada dunia teknologi informasi sebelum memasuki dan mendalaminya di Perguruan Tinggi. Tugas kita sebagai guru adalah mengenallkan seluas-luasnya dunia IT pada umumnya. Dan luas dalam hal ini tidak harus mendalam.
Kita juga harus mengetahui psikologi siswa dan kondisi siswa SMA. Pada usia-usia mereka, jiwanya labil dan mudah terpengaruh oleh hal-hal yang ada di sekelilingnya. Sehingga tidak seharunya kita memaksa siswa untuk mempelajari hal-hal yang seharusnya belum mereka terima.
Kita juga harus dapat berparadigma bahwa selepas SMA mereka juga tidak semuanya kuliah di jurusan IT. Mungkin hanya 10-20 % dari mereka yang melanjutkan di TI. Sehingga tidak seharusnya kita memberikan materi kita terlalu dalam. Misalnya untuk materi pemrograman, alangkah baiknya jika kita juga dapat meramu sehingga materi yang kita berikan tidak terlalu sulit. Tugas kita adalah memberikan kesempatan pada siswa untuk bisa belajar IT lebih baik dan itu adalah pilihan.
Untuk materi SMA saya berpendapat bahwa unsur-unsur ini harus kita kenalkan pada siswa-siswa kita dan saya yakin ini dapat berjalan beberapa tahun karena berdasar pengalaman saya mengajar tidak banyak yang saya ubah. Unsur-unsur tersebut adalah:
1. Etika berinternet dalam dunia maya
2. Pemrograman dasar
3. Grafis (vektor dan bitmap), bagus juga kalau ada animasi
4. Database (bagus juga jika ada pemrograman yang sifatnya pengenalan)
5. Pemrograman web (HTML dan sedikit PHP)
6. Jaringan Komputer
7. Open Source (aplikasi office, grafis)
Sehingga menurut saya cukup berat jika siswa SMA disuruh untuk membuat Toko Online berbasis PHP dan MySQL. Membuat toko online sebaiknya misalnya menggunakan CMS.
Jadi, tujuan kita mendidik siswa SMA dalam bidang IT adalah bukan menjadi kan mereka ahli IT, tetapi menjadikan mereka mengerti duni IT. Dan itulah tugas dan tanggung jawab kita sebagai guru. Sayang jika mereka jago IT tetapi tidak memiliki kepekaan sosial. IT adalah sarana menjadikan peradaban manusia lebih baik dan bukan untuk menghancurkan dunia.
Boleh dikatakan materi TIK untuk SMA sangat tanggung, kerana menurut saya itulah hakekat pendidikan IT. Mungkin kita merasa tidak puas dengan situasi ini, tetapi bukankah kita akan lebih puas jika anak-anak didik kita menjadi manusia yang utuh.
Related Posts
betul mas… aku malah pengen ngajar SMA ni, ngajar di SD lebih susah lagi heehehe gak ada ketentuan yang pasti dari pemerintah.. jadi aku juga mengubahnya sendiri… Hidup IT..
@fajar: iya mas fajar, sebagai guru kita memang harus kreatif dalam mengembangkan kurikulum.
lam kenal mas, …..kalo panjenengan bisa berkesimpulan materi TIK di SMA sangat tanggung. Pernah mbayangin nggak jadi guru “pocokan” TIK karena belum punya guru asli TIK dan yang semua muridnya di rumah gak punya komputer? gimana hayoo….
@pak dar: memang saya belum pernah menjadi guru pocokan dan saya juga mengetahui kondisi komputer di sekolah-sekolah di luar perkotaan. Saya pernah punya murid dari Irian yang menceritakan bahwa untuk pelajaran TIK, satu komputer digunakan untuk 40 siswa dan bergantian. Memang pendidikan di Indonesia belum merata dan saya sungguh beruntung bisa mengajar di sekolah yang memiliki kondisi cukup baik dan saya juga pengen merasakan kondisi di sekolah lain.
emang benar semua comment, akan tetapi kalo dari pihak sekolah tdk mendukung terutama kepsek yg buta IT apalagi sekarang ini ada opensource bukan kah itu jd kendala.
sharing aja, saya pernah d sekolah mengusulkan untuk membuat kurikulum sendiri dengan alasan karna adanya ktsp yg menjadi otoritas sekolah, akan tetapi kenyataanya d tolak, saya mengajar TIK mempersiapkan anak ke keahlian dan itupun d tolak sudah bolak balik adu argument tapi tetap nihil sampai sekarangpun sama saja, minta do’a dari teman” smoga dgn IT kita bisa berkreasi maxi buat anak didik
thanks
@nandho: saya sangat setuju dengan pendapat Anda. Kemajuan TI sekolah bergantung pada para pengambil keputusan di sekolah kita. Kadang kita punya usulan bagus tetapi kenyataannya “mental” di pihak Kepala Sekolah. Saya juga pernah mengalami hal demikian. Yang bisa kita lakukan mungkin memberi kesadaran pada pihak sekolah akan pentingnya TI bagi dunia pendidikan.
untuk menarik perhatian atasan, mungkin bisa mengundang pakar TI ke sekolah buat seminar/urun rembug. kepala sekolah dan staf lain mesti ikut.
kalo dari siswa, mereka butuh kemampuan TI yang seperti apa, ya pak?
lebih parah lagi kalau yang ngajar TIK bukan sarjana TIK..
apakah klo bukan sarjana TIK tidak boleh atau tidak layak mengajar TIK ??
Hehehehe emang bener. Saya dari tahun pertama di SMP udah lari dari kurikulum sebab saya dari teknik @.@
Perjalanan 3 tahun hanya mendapat Office kasihan banget. Apalagi kondisi di tempat saya mengajar mengenaskan. Rata – rata selepas mereka lulus dari SMP langsung nikah kalo gag kerja jadi buruh di kota. Naas memang.
@alfikri:sebenarnya tidak masalah mas…kurikulum bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing sekolah.
Mas, pengalaman saya lebih parah Mas, waktu saya mengembangkan pengajaran multimedia di sebuah SMK di Jakarta, Kepseknya memasang wali kelas Multimedia dari guru Bhs Indonesia ( gaptek ) dan Kaprognya dari wakasek ( gaptek ) juga, padahal baru angkatan perdana, waah frustasi saya, waktu saya usulkan yang tidak gaptek, ee… saya sekarang malah mau dikeluaran, dianggap berani menentang keputusan Kepsek. ….. bagaimana pendapat mas Istiyanto….?
@ardi:mungkin kepala sekolah punya pertimbangan lain mas, mengapa guru tersebut disuruh mengajar multimedia. Kalau sudah mau mengeluarkan brarti itu sudah semena-mena, mungkin kepala sekolah diajak berkomunikasi terlebih dahulu.