Hari ini siswa-siswi kelas XII mengawali Ujian Akhir Nasional (UAN) 2008. Kebetulan saya berjaga di salah satu SMA swasta di Yogyakarta. Saya mengamati bahwa sebagian besar siswa merasa sungguh terbebani dengan ujian ini. Dengan standar kelulusan yang lebih tinggi daripada tahun lalu, mereka juga dihadapkan bahwa jumlah mata pelajaran yang diujikan lebih banyak, yaitu 6 mata pelajaran. Pada jaman saya dulu, saya juga harus melalui 6 mata pelajaran di UAN. Namun, sistem ujian tahun ini jauh lebih ketat karena syarat kelulusan hanya ditentukan semata-mata oleh nilai UAN. Berbeda dengan jaman saya yang kelulusannya juga ditentukan oleh nilai rapor.
Pada sesi pertama yaitu mata pelajaran bahasa Indonesia, sebagian besar siswa masih mampu untuk tersenyum ketika keluar dari ruang ujian. Namun pada sesi kedua, tak satupun dari mereka yang keluar dengan senyuman. Mereka keluar dengan raut wajah cemas dan stress. Mau tak mau mereka harus menghadapi sistem ini. Pada sesi kedua saya melihat soal ujian matematika dan menurut saya tingkat kesulitan soal ini 20-30 %. Bagi siswa yang mempunyai kemampuan cukup, saya memprediksi bahawa mereka memiliki kemungkinan salah 5-9 soal dari total soal 40. Memang saya berjaga bukan di sekolah favorit dan namun di sekolah yang biasa-biasa saja. Lalu bagaimana dengan sekolah-sekolah lain yang notabene memiliki kemampuan menengah ke bawah ? Sanggupkah mereka melalui UAN tahun ini ? Jika memang UAN bukan alat ukur yang baik, adakah alternatif yang lain ? Mengapa harus ada UAN, jika UAN bukan alat yang baik untuk mengukur prestasi siswa ? Mengapa proses belajar siswa yang dialami selama 3 tahun hanya ditentukan selama tiga hari ?
dan…. sesi ketiganya adalah..? nih ada lanjutannya nih, kalo hari pertama sudah dilewati, sekarang masuk hari kedua UAN. dan ada apa?? kalo sesi pertama, Bahasa Indonesia, siswa masih bisa tersenyum saat keluar. trus sesi kedua, siswa keluar ruangan dengan waut stress, kini sesi ketiganya semakin klimaks. siswa stress di dalam ruangan, saat sedang mengerjakan ujian. tuh, tadi nonton berita di rcti. kasihan…!!
buat adik-adik yang UAN, terus belajar ya. kalau stress, langsung jalan-jalan aja. jangan terlalu stress yah!
dan menangggapi tulisan Bapak di atas, Bapak seorang pengawas, berarti seorang guru juga kan..? mengapa Bapak mempertanyakan ini “Mengapa proses belajar siswa yang dialami selama 3 tahun hanya ditentukan selama tiga hari?”. ahhhh, rupanya bapak tidak setuju dengan keputusan yang sudah dibuat.
ayolah Pak. majukan pendidikan kita!
@day: Saya juga bagian dari sistem, dan mengikuti kebijakan pusat. Di hari kedua UAN hari ini, saya betul-betul merasa kasihan. Siswa-siswa sungguh terbebani dengan sistem ini
ada apa yah dengan pemerintah kita ini? kenapa keputusan2xnya lebih banyak menyengsarakan rakyatnya sendiri dibanding berpihak padanya…
betul…saya juga tidak setuju ada UAN sebagai penentu kelulusan..ibarat tidak menghargai proses.Padahal proses itu sendiri yang seharusnya perlu kita nilai
kemampuan siswa itu berasal dari sebuah proses tp bila hanya melalui ujian nasional msa depan ditentukan , nonsens nama nya
kak minta soal uan teknik multimedia dunk
saya adalah,seorang siswa di kafila international islamic school,oh ya saya mau nanya gimana sich cara ngitung matematika dengan cepat dan tepat.THANK
UAN masih diperlukan.. itu masih jadi tolak ukur yg paling relevan untuk mengukur kemampuan seorang siswa dalam menyerap pelajaran yg telah dia pelajari selama PROSES belajar nya.
@Istiyanto… justru kalo kita kasihan dengan murid kita, harusnya kita sebagai guru harus membimbing mereka agar siap menghadapi 3 hari UAN…
@Yudhi coba amati dulu bagaimana proses belajar di sekolah2 negri yg bukan unggulan.. murid2 nya sibuk dengan bolos, tawuran, yg siswi sibuk dengan jalan2 dan shoping serta maen internet Facebook
Yg bilang UAN tidak diperlukan adalah orang2 yg MALAS dan TAKUT akan uji kemampuan